Lagu-lagu Indonesia Yang Pernah Dilarang Diputar

Tim KORDS.id 10 February 2022 10:42

Bisakah kita hitung ada berapa banyak lagu yang bisa kita nikmati sambil minum kopi atau the? Tentu banyak sekali, dihitung-hitung juga mungkin malah bikin pusing, mending abisin kopinya sambil dengerin lagu favorit.

Namun dari jutaan lagu yang ada, ada beberapa yang sempat dilarang diputar di radio atau media masa elektronik lainnya. Lagu tersebut ada yg diasosiakin dengan sesuatu yang bersinggungan dengan pemerintah pada masa itu, ada pula yang hanya sekedar alasan yang tak masuk diakal.

Berikut adalah 4 buah lagu dari negeri tercinta, Indonesia, yang sempat dilarang untuk diputar oleh pemerintah.

1. Genjer – Genjer

Lagu ini diciptakan dada sekitar tahun 1942, oleh seorang pemain alat musik angkulng bernama Muhammad Arief.

Syair lagu ini dimaksudkan sebagai sindiran atas masa pendudukan Jepang. Pada saat itu, kondisi rakyat semakin sengsara dibanding sebelumnya. Bahkan ‘genjer’ (Limnocharis flava) tanaman gulma yang tumbuh di rawa-rawa sebelumnya dikonsumsi itik, namun menjadi santapan yang lezat akibat tidak mampu membeli daging.

Pada sekitar tahun 1959 hingga 1966, Partai Komunis Indonesia (PKI) melancarkan kampanye besar-besaran untuk meningkatkan popularitas. Lagu ini, yang menggambarkan penderitaan warga desa, menjadi salah satu lagu propaganda yang disukai dan dinyanyikan pada berbagai kesempatan. Akibatnya orang mulai mengasosiasikan lagu ini sebagai "lagu PKI".

Lagu Genjer-genjer mulai dilarang untuk disebarluaskan pada tahun 1965, di masa Order Baru. Setelah berakhirnya rezim Orde Baru pada tahun 1998, larangan ini pun secara resmi berakhir.

2. Darah Rakyat

Pada saat Revolusi Agustus 1945 menggelora, ada banyak lagu perjuangan yang lahir. Yang populer hingga sekarang, seperti Maju Tak Gentar, Bagimu Negeri, Bangun Pemuda-Pemudi, Teguh Kukuh Berlapis Baja, dan masih banyak lagi.

Tetapi ada satu lagu yang sangat populer kala itu, paling memiliki daya membakar semangat, tapi terlupakan. Lagu itu berjudul “Darah Rakyat”.

Lagu ini diciptakan oleh seorang pemuda buruh Kereta Api benama Legiman Hardjono pada tahun 1945. tidak banyak sumber menceritakan siapa itu Legiman Hardjono.

Lagu Darah Rakyat perlahan mulai dilarang pada saat revolusi tiga daerah (Pemalang, Tegal, Brebes) bergejolak yang terjadi diawal kemerdekaan indonesia.

Baru pada tahun 1963 lagu Darah Rakyat kembali terdengar. Kali ini lagu tersebut terdengar di istana negara, ketika Presiden Soekarno membuka Musyawarah Besar Kedua Angkatan 45 di bulan Desember.

3. Pak Tua

lagu yang diciptakan oleh Iwan Fals dan dinyanyikan oleh grup musik Elpamas bercerita tentang seorang pengusaha yang sudah tua namun enggan untuk pensiun.

Banyak yang menduga bahwa lagu “Pak Tua” ditujukan kepada Presiden Suharto, Penguasa Orde Baru yang cukup lama berhasil “mengendalikan” pemerintahan. “Siapa saja yang mencoba melawan, akan saya gebuki” sudah cukup menggambarkan sosok Pak Harto dan Orde Baru-nya.

Lagu Pak Tua dilarang untuk diputar di radio pada era 90-an. Bukan hanya di radio, di semua media elektronik pun lagu ini haram untuk diputar.

4. Hati Yang Luka

Bukan hanya lagu-lagu yang dianggap memiliki muatan kritik terhadap Pemerintah, pada era Orde Baru, lagu cengeng tentang percintaan juga sempat dilarang untuk diputar dan ditayangkan di televisi.

Satu yang paling terkenal saat itu adalah lagu "Hati Yang Luka" dari Betharia Sonata. Dengan nada minor dan suara khas Betharia Sonata yang melengking, lagu tersebut bercerita tentang kehidupan perkawinan yang diwarnai kekerasan dalam rumah tangga.

Tak ada satupun lirik yang menyindir atau berkaitan dengan Pemerintahan. Hanya sebatas cerita mengenai penderitaan seorang istri yang memiliki suami yang main serong dan suka menampar.

Namun entah dari mana asal muasalnya, pada acara perayaan ulang tahun TVRI ke-26 tangga 24 Agustus 1988 yang dimeriahkan musik-musik ceria, sebagai Menteri Penerangan, Harmoko dengan tegas mengatakan, untuk menghentikan pemutaran lagu-lagu cengeng semacam "Hati yang Luka" itu.

Menurut Harmoko lagu-lagu seperti itu memuat lirik yang tak sesuai kenyataan. Dan lebih jauh, lagu-lagu cengeng Di mata Harmoko, lagu-lagu semacam itu menghambat pembangunan nasional. Lagu-lagu yang cengeng dianggap tidak bisa menumbuhkan semangat kerja. Dimana tanpa semangat kerja rakyat, pembangunan seuatu negara tidak akan berhasil untuk diwujudkan.

Maka dari itu sebagai satu-satunya dan saluran milik Pemerintah, TVRI diminta Harmoko untuk tidak menayangkan atau memutar lagu "Hati yang Luka milik Betharia Sonata tersebut. Bersama lagu cengeng lainnya, seperti lagu Gelas-gelas kaca milik Nia Daniaty.

itulah 4 buah lagu yang sempat dilarang diperdengarkan oleh pemerintah Indonesia. selain 4 lagu diatas, masih ada beberapa lagu yang pernah dilarang untuk diputar berkaitan dengan lirik lagunya yang terbilang vulgar, tidak senonoh atau alasan lainnya.

bila ada masukan atau daftar yang ingin ditambahkan, silahkan tinggal komentar. Terimakasih